Ketika mendengar kata demonstrasi, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Kerumunan massa, orasi, atau spanduk berisi tuntutan? Padahal, ada banyak cara masyarakat menyampaikan aspirasi dan mendorong perubahan, termasuk melalui aksi yang tidak menggunakan kekerasan. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam berbagai gerakan sosial adalah Nonviolent Direct Action (NVDA), atau aksi langsung nonkekerasan.

Mengenal Aksi Langsung Nonkekerasan

Nonviolent Direct Action (NVDA) merupakan bentuk aksi yang dilakukan secara langsung untuk menyampaikan tuntutan, menentang suatu kebijakan, atau mendorong perubahan tanpa menggunakan kekerasan fisik. Bentuknya beragam, mulai dari aksi duduk, boikot, pembentangan spanduk, hingga pertunjukan seni di ruang publik.

Berbeda dari sekadar menyampaikan pendapat melalui pernyataan atau diskusi, NVDA menggunakan tindakan langsung untuk menarik perhatian terhadap suatu persoalan. Misalnya, aksi duduk di depan kantor pemerintahan untuk menyampaikan tuntutan, atau pembentangan spanduk di ruang publik untuk menyoroti kebijakan tertentu.

Namun, aksi nonkekerasan bukan berarti tanpa risiko. Karena itu, perencanaan, keselamatan, dan pertimbangan terhadap dampak aksi menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.

Apa Saja Prinsip Aksi Nonkekerasan?

Dalam Toolkit for Non-Violent Direct Action, Amnesty International (2018) dijelaskan sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan ketika merencanakan aksi langsung nonkekerasan, antara lain:

  1. Komitmen terhadap nonkekerasan. Aksi dilakukan tanpa menggunakan kekerasan fisik sebagai cara menyampaikan tuntutan.

  2. Mempertimbangkan risiko. Setiap tindakan perlu memiliki tujuan yang jelas serta memperhitungkan kemungkinan risiko dan dampaknya.

  3. Bertanggung jawab atas tindakan. Peserta aksi perlu memahami konsekuensi dan menyiapkan langkah untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi.

  4. Memperhatikan keselamatan dan hak orang lain. Aksi perlu mempertimbangkan keamanan peserta maupun masyarakat yang berpotensi terdampak.

Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa aksi nonkekerasan bukan sekadar membuat kegiatan yang menarik perhatian, tetapi juga membutuhkan perencanaan dan tanggung jawab.

Aksi Greenpeace di Bundaran HI, Salah Satu Contohnya

Salah satu contoh aksi langsung nonkekerasan terjadi pada 20 Oktober 2026, ketika aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk besar di Patung Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta. Melalui aksi tersebut, Greenpeace menyampaikan kritik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mendesak pemerintah mengambil langkah lebih serius dalam menangani persoalan lingkungan dan ekonomi.

Pemilihan lokasi dan penggunaan spanduk menjadi cara untuk membawa isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke ruang publik. Menariknya, aksi tersebut viral dan langsung memantik kepedulian publik secara masif.

Lalu, bagaimana orang muda melihat persoalan yang disuarakan melalui aksi tersebut?

Temuan Quick Poll Kawula17 pada 21–22 Oktober 2026 menunjukkan bahwa 9 dari 10 orang muda mengetahui aksi Greenpeace di Bundaran HI. Selain itu, 87% orang muda di Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Papua, pernah merasakan dampak karhutla, sementara 67% mendukung penetapan karhutla sebagai bencana nasional.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa aksi Greenpeace diketahui oleh orang muda dan persoalan karhutla juga menjadi perhatian mereka.

Aksi Nonkekerasan Sudah Lama Digunakan dalam Gerakan Sosial

Strategi aksi nonkekerasan bukan hal baru. Sepanjang sejarah, pendekatan ini digunakan dalam berbagai gerakan untuk menyampaikan tuntutan dan mendorong perubahan.

Pada 2018, aktivis iklim Greta Thunberg memulai aksi mogok sekolah di depan Parlemen Swedia untuk menuntut tindakan terhadap perubahan iklim. Aksinya kemudian berkembang menjadi gerakan internasional Fridays for Future, yang melibatkan pelajar dari berbagai negara.

Jauh sebelumnya, Mahatma Gandhi menggunakan pendekatan nonkekerasan dalam perjuangan kemerdekaan India. Salah satu contohnya adalah Salt March pada 1930, ketika Gandhi bersama para pengikutnya melakukan aksi berjalan kaki untuk menentang aturan monopoli garam pemerintah kolonial Inggris.

Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa aksi nonkekerasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, bergantung pada tujuan, persoalan, dan kondisi yang dihadapi.

Ada Banyak Cara untuk Berpartisipasi

Aksi langsung nonkekerasan merupakan salah satu cara masyarakat menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam isu publik. Namun, partisipasi tidak selalu harus dilakukan melalui demonstrasi atau aksi langsung di ruang publik. Orang muda juga dapat berpartisipasi melalui diskusi, komunitas, kampanye digital, hingga mengawasi proses pembuatan kebijakan.

Yuk kunjungi laman #KawalProlegnas di kawula17.id, kamu bisa mengikuti perkembangan berbagai Rancangan Undang-Undang (RUU) yang sedang dibahas. Cek juga hasil Quick Poll Kawula17 selengkapnya di kawula17.id!

 

 

Sumber:

https://binus.ac.id/malang/2021/12/gandhi-dan-gerakan-pembebasan/

https://balairungpress.com/2026/09/amarah-ibu-berisik-atas-kekacauan-program-mbg-yang-tak-terusik/

https://www.amnesty.cz/data/file/4060-toolkit-for-non-violent-direct-action.pdf?version=1528141154