Kemiskinan dan Kerentanan Ekonomi
yang Nyata
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk
miskin Indonesia mengalami penurunan sekitar 490 ribu orang per Maret 2025,
menjadi 23,36 juta jiwa jika dibandingkan dengan September 2024 sebanyak 24,06
juta orang. Meski mengalami penurunan, Survei Nasional Kawula17 (NKS) kuartal keempat
2025 menunjukkan kemiskinan menjadi perhatian utama masyarakat (55%), hanya
sedikit di bawah topik ekonomi (58%).
Temuan ini menunjukkan bahwa kemiskinan masih menjadi
kekhawatiran utama masyarakat. Tekanan dan kesulitan ekonomi yang dialami
keluarga YBR dalam memenuhi kebutuhan sekolah bukan kondisi yang terisolasi,
melainkan realitas yang dirasakan banyak rumah tangga.
Dalam usaha mengurai masalah kemiskinan, pemerintah
melalui Program Indonesia Pintar (PIP) merancang bantuan pendidikan bagi
anak-anak usia sekolah, terutama dari keluarga miskin atau rentan
miskin untuk
menghindari kemungkinan putus sekolah dan meringankan biaya operasional
pendidikan peserta didik. Dalam kasus ini, YBR tercatat sebagai penerima
manfaat PIP. Namun, dana bantuan tidak bisa dicairkan karena ketidaksesuaian
administrasi kependudukan. Persyaratan kesesuaian data menjadi kendala utama dalam
proses pencairan bantuan. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana hambatan
administratif dapat berdampak langsung pada kelompok yang paling membutuhkan.
Titik Balik untuk Menciptakan
Perubahan Struktural
NKS Q4 2025 mencatat skor kepuasan masyarakat terhadap
kinerja pemerintah berada pada angka 5,7, meningkat tipis (+0,6 poin) dari
kuartal sebelumnya. Namun, pada saat yang sama, penilaian terhadap penanganan
kemiskinan masih menunjukkan NET score negatif (–27%).
Angka ini mencerminkan kesenjangan antara perbaikan
indikator makro dan apa yang terjadi pada masyarakat di lapangan. Persepsi
negatif terhadap penananganan kemiskinan oleh pemerintah menunjukkan bahwa tantangan
yang ada bukan lagi sebatas ketersediaan program, melainkan pada efektivitas implementasinya.
Dalam hal ini, perbaikan birokrasi dan regulasi kebijakan
menjadi langkah yang mendesak. Penyederhanaan proses penyaluran bantuan sosial
menjadi krusial agar program yang ada benar-benar dapat menjangkau kelompok
rentan tanpa terhambat oleh kompleksitas administratif. Mengentaskan kemiskinan
juga perlu dengan pendekatan yang komprehensif, termasuk penciptaan lapangan
kerja yang inklusif dan layak terutama pada daerah-daerah dengan tingkat
kerentaan yang tinggi. Akses lapangan pekerjaan yang stabil dan layak
memungkinkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri, sehingga
tidak terus bergantung pada bantuan sosial yang ada.
Komitmen anggaran negara juga berperan penting.
Pendidikan, sebagai kebutuhan dasar sekaligus investasi jangka panjang, perlu
ditempatkan secara konsisten sebagai prioritas strategis. Jaminan akses
pendidikan yang utuh berpotensi menjadi instrumen paling efektif dalam memutus
rantai kemiskinan antargenerasi.
Sejumlah langkah tersebut, mulai
dari perbaikan tata kelola kebijakan, penciptaan lapangan pekerjaan, hingga komitmen
anggaran negara untuk pendidikan, menunjukkan bahwa menangani kemiskinan memerlukan
solusi yang menyelesaikan masalah dari akarnya lewat upaya-upaya yang efektif
dan berkelanjutan.
Dengan demikian, peristiwa yang terjadi membuktikan
bahwa kemiskinan adalah tantangan struktural yang memerlukan respons kebijakan
yang lebih terintegrasi. Penurunan angka kemiskinan secara statistik sepatutnya
tidak menjadi alasan untuk pemerintah menutup mata pada persepsi masyarakat dan
realitas lapangan yang menunjukkan bahwa kemiskinan serta kerentanan ekonomi
masih dirasakan oleh banyak masyarakat. Evaluasi kebijakan menjadi penting agar
bantuan sosial yang ada benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan.
Temukan
laporan lengkap Survei Nasional Kawula17 (NKS) Q4 2025 di sini.

![[ARTIKEL] Anak SD Bunuh Diri di NTT, Tidak Mampu Beli Pulpen dan Buku: Masalah Individu atau Lebih Jauh Dari Itu?](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fartikel-anak-sd-bunuh-diri-di-ntt-tidak-mampu-beli-pulpen-dan-buku-m-cover.jpg&w=3840&q=75)
![[ARTIKEL] Learning from Unlearning: Memb](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fimages-45.jpg&w=3840&q=75)

![[OPINI] Apa Itu Moderasi Konten dan Kena](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fyoutube-removed-1400x825.jpg&w=3840&q=75)

![[RILIS PERS] Penilaian dan Keyakinan Ora](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fwhatsapp-image-2026-08-05-at-18-23-23.jpeg&w=3840&q=75)
