Dari Kasus Keracunan Hingga Sorotan Publik
Hingga Oktober 2025, data Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan terdapat 13.168 kasus keracunan siswa penerima MBG di berbagai daerah. Lonjakan kasus ini turut mendorong perhatian publik terhadap pelaksanaan MBG dalam Survei Nasional Kawula17 (NKS). Pada Q3 2025, MBG (45%) menjadi satu-satunya isu non-ekonomi yang masuk dalam sepuluh besar kekhawatiran masyarakat, di tengah dominasi isu seperti pengangguran (48%) dan transparansi penggunaan anggaran negara (47%). Perhatian masyarakat terhadap urgensi penyelesaian isu MBG juga meningkat +30% dibandingkan Q2 2025 (15%).
Menurut Maria Angelica, Program Manager Kawula17, tingginya ketidakpuasan ini menunjukkan sikap kritis masyarakat terhadap kebijakan dan program pemerintah. “Kekhawatiran masyarakat terhadap program MBG bukan tanpa alasan. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk benar-benar membenahi program MBG agar manfaatnya dapat dirasakan para penerima program, yaitu anak-anak sekolah,” ujarnya.
Program MBG: Hanya Simbolisme Semata?
Konstitusi menjamin hak warga atas pendidikan yang layak, termasuk kesejahteraan bagi pengajar dan pelajar. Namun, NKS Q3 2025 menemukan bahwa rendahnya gaji guru honorer (28%) dan mahalnya biaya pendidikan (27%) masih menjadi isu utama dunia pendidikan saat ini. Alih-alih memperkuat aspek mendasar tersebut, pemerintah justru menonjolkan MBG sebagai solusi cepat meningkatkan kehadiran dan partisipasi pelajar. “Pendekatan seperti ini lebih bersifat simbolik ketimbang struktural. MBG diposisikan sebagai penanda keberhasilan, padahal akar masalah pendidikan sendiri belum tersentuh,” lanjut Maria Angelica.
Ketidakpuasan dan Tata Kelola
Dibandingkan NKS Q1 2025, masyarakat yang merasa (sangat) tidak puas dengan program MBG meningkat +7% pada kuartal ini. Hasil NET skor MBG pada Q3 (6%) juga menunjukkan penurunan signifikan (-9%) dari Q1 2025 (15%).
Selain masyarakat, kritik diarahkan ahli pada sistem penyediaan pangan gizi yang dinilai tidak akuntabel serta keterlibatan pihak non-ahli, termasuk unsur militer,dalam rantai pelaksanaannya. Pendekatan command and control, menurut pengamat politik Made Supriatma, menjadikan MBG sangat tersentralisasi dan sulit dievaluasi di tingkat daerah. “Program ini terlalu bergantung pada struktur birokrasi dan kekuasaan, bukan pada kebutuhan penerima manfaat,” tegasnya.
Ketidakpuasan juga selaras dengan penyampaian dr. Tan Shot Yen selaku perwakilan Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI pada 22 Sepetember 2025. Yen menyampaikan “4 Reformasi dan 5 Rekomendasi MBG” untuk memperbaiki tata kelola program dengan menjamin kualitas makanan yang disajikan bersamaan peningkatan transparansi pengelolaan keuangan dan manajerial. Tuntutan ini pun berhubungan langsung terhadap belum terwujudnya penggunaan pangan lokal dalam proses MBG yang lebih sering menggunakan ultra processing food. Padahal, masyarakat sendiri memiliki pandangan bahwa sistem pangan nasional perlu dibangun berdasarkan pangan lokal (53%).
Program Manager Kawula17 Maria Angelica menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap MBG perlu dilakukan segera, terutama terkait transparansi, mekanisme pengawasan, dan partisipasi publik. Program gizi nasional seharusnya tidak berhenti pada pencitraan politik, melainkan menjadi wujud nyata keberpihakan negara pada anak-anak Indonesia. “Program sebesar dan sepenting ini harus dikelola dengan sistem yang jelas, akuntabel, dan berpihak pada penerima manfaat. Tanpa pembenahan dari dasar, kebijakan ini berisiko mengulang kesalahan yang sama dan gagal menjawab kebutuhan masyarakat,” tutup Maria Angelica.
Survei Nasional Kawula17 (NKS) merupakan survei per kuartal untuk melihat kinerja pemerintah dari perspektif masyarakat. Survei dilakukan dengan metode Computer Assisted Self Interviewing (CASI) atau survei daring. Periode pengumpulan data survei dilakukan pada tanggal 26-29 September 2025 dengan sampel representatif sebesar 404 responden dari seluruh Indonesia dan diikuti oleh responden berusia 17-44 tahun dengan margin of error 5%.

![[RILIS PERS] Dari Keracunan hingga Tata Kelola: Mengapa Program Makan Bergizi Gratis Perlu Evaluasi Menyeluruh](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fartikel-dari-keracunan-hingga-tata-kelola-mengapa-program-makan-berg-cover.jpg&w=3840&q=75)
![[ARTIKEL] Learning from Unlearning: Memb](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fimages-45.jpg&w=3840&q=75)

![[OPINI] Apa Itu Moderasi Konten dan Kena](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fyoutube-removed-1400x825.jpg&w=3840&q=75)

![[RILIS PERS] Penilaian dan Keyakinan Ora](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fwhatsapp-image-2026-08-05-at-18-23-23.jpeg&w=3840&q=75)
