Tiga Poros Pemilu 2024 dan
Dominasi KIM+ Pasca Pemilu
Pemilu 2024 memperlihatkan peta
politik yang terbelah dalam tiga poros calon presiden dan wakil presiden. Calon
01 Anies-Cak Imin didukung oleh NasDem, PKB, dan PKS. Calon 02 Prabowo-Gibran
diusung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang terdiri dari Gerindra, Golkar,
PAN, dan Demokrat. Sementara itu, Calon 03 Ganjar-Mahfud didukung oleh PDIP. Di
luar partai parlemen, PSI, Partai Gelora, Partai Buruh, PBB, dan Partai Garuda
bergabung ke KIM; Hanura, Perindo, dan PPP mendukung Ganjar; sedangkan Partai
Ummat berada di barisan Anies. Peta ini menunjukkan bahwa sebelum pemilu,
kekuatan politik masih tersebar dalam tiga poros utama, meskipun KIM sudah
cukup mendominasi.
Secara elektoral, distribusi suara
partai juga mencerminkan kompetisi yang cukup terbuka. Tiga partai dengan
perolehan suara tertinggi adalah PDIP (16,72%), Golkar (15,28%), dan Gerindra
(13,22%). Tidak ada satu partai yang benar-benar dominan. Dukungan publik masih
terdistribusi pada beberapa kekuatan besar.
Pasca Februari 2024, kemenangan
Prabowo–Gibran melalui Koalisi Indonesia Maju menjadi titik penting perubahan
lanskap politik nasional Indonesia. Melalui dukungan partai-partai besar dan
menengah, KIM membentuk fondasi pemerintahan baru. Namun, dinamika tidak
berhenti di situ. Pasca pelantikan pada Oktober 2024, sejumlah partai yang
sebelumnya berada di luar KIM kemudian bergabung ke dalam Koalisi Indonesia
Maju Plus (KIM+). Konsolidasi ini membuat hampir seluruh partai parlemen berada
dalam satu blok pemerintahan, menyisakan PDIP sebagai satu-satunya partai
parlemen di luar koalisi.
Perubahan
tersebut menciptakan apa yang kerap disebut sebagai “koalisi gemuk”, dengan
dominasi kuat koalisi pemerintah di parlemen. Secara formal, susunan ini
dianggap dapat menghadirkan stabilitas politik yang membuat proses
perundang-undangan berjalan lancar karena sebagian besar pihak berada di
’posisi’ yang sama. Di sisi lain, koalisi gemuk berpotensi membuat dinamika
suara penyeimbang menjadi lebih terbatas dan keseimbangan kekuatan politik
mengalami perubahan signifikan.
Indeks Partai:
Antara Preferensi Publik dan Sikap Partai
Untuk membaca
perkembangan pasca-pemilu, National Kawula17 Survey (NKS) memonitor dua hal:
tren perolehan suara partai dan indeks partai politik. Indeks partai ini
mengukur sejauh mana sikap partai politik terhadap isu-isu tertentu selaras
dengan preferensi masyarakat.
Temuan terbaru
indeks partai dalam NKS Q4 2025 mengungkapkan bahwa PDIP—partai yang berada di
luar koalisi—memperoleh indeks tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
sejumlah isu, sikap partai tersebut dinilai lebih sesuai dengan preferensi
publik.
Temuan ini
menjadi catatan penting. Keberadaan dalam koalisi pemerintahan tidak secara
otomatis membuat partai dinilai lebih representatif. Dalam beberapa kasus,
sikap partai yang terlalu mengikuti arah pemerintah justru dinilai kurang
mencerminkan aspirasi masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan
kekuasaan belum tentu berbanding lurus dengan kedekatan terhadap preferensi
publik.
Tren Perolehan
Suara 2025: Menguatnya Gerindra
Sejak Q1 2025,
tepat setelah Prabowo-Gibran dilantik pada Oktober 2024, terjadi pergeseran
perlahan dalam peta perolehan suara partai. Tren paling menonjol adalah
kenaikan suara Partai Gerindra.
Jika pada Pemilu
2024 Gerindra memperoleh 13%, maka sepanjang 2025 angka tersebut terus
meningkat hingga mencapai 36% pada Q4 2025. Kenaikan ini menjadi perubahan
paling signifikan dalam peta dinamika elektoral pasca-pemilu.
Sebaliknya,
sejumlah partai lain mengalami penurunan jika dibandingkan antara perolehan
suara Pemilu 2024 dan pilihan utama publik pada Q4 2025. PKB tercatat turun
sebesar -9%, NasDem turun -6%, dan PDIP turun -8%.
Sedangkan partai
yang sejak awal berada di dalam koalisi juga ikut turun, seperti PAN mengalami
penurunan 3%, kemudian Golkar mengalami penurunan lebih tajam dari 15% menjadi
sekitar 5% pada Q4 2025 jika dibandingkan dengan Pemilu 2024.
Hanya Partai
Demokrat dan PKS yang memiliki suara relatif stabil sejak Pemilu 2024 (Demokrat
7%, PKS 8%) hingga Q4 2025 (Demokrat 8%, PKS 8%).
Penurunan
sejumlah partai tersebut tampak berkorelasi dengan kenaikan Gerindra. Terutama
partai-partai yang berada di dalam KIM+, seperti Golkar, Nasdem, dan PKB,
tampak mulai kehilangan suara. Bentuk penokohan Prabowo yang sangat kuat dalam
setiap langkah pemerintah dianggap memengaruhi persepsi dan pilihan masyarakat
atas partai politik.
Konsentrasi
Dukungan dan Tantangan Demokrasi
Pada Q4 2025,
Gerindra mengalami kenaikan suara hingga 36%, di tengah melemahnya sebagian
besar partai lain dan terbatasnya ’oposisi’ di parlemen. Hal ini memunculkan
kekhawatiran tentang keseimbangan demokrasi dan peran penyeimbang dalam
parlemen. Dalam sebuah sistem demokrasi, peran penyeimbang ini dilakukan oleh
oposisi yang melakukan
Dalam sistem
demokrasi, distribusi kekuatan yang relatif seimbang penting untuk menjaga
fungsi pengawasan dan mekanisme checks and balances. Ketika dukungan publik dan
pemerintahan semakin terkonsentrasi pada satu partai, sementara partai lain
melemah, ruang kompetisi politik berpotensi menyempit. Semakin sempitnya ruang
kompetisi politik dapat membuat checks and balances juga semakin lemah. Hal
tersebut membuat proses demokrasi terancam stagnan karena ketidakhadiran peran
penyeimbang.
Perkembangan ini
menunjukkan bahwa politik pasca-Pemilu 2024 tidak hanya tentang konsolidasi
koalisi, tetapi juga tentang bagaimana dukungan publik mengalami konsentrasi
pada satu partai tertentu. Tantangan ke depan bukan hanya menjaga stabilitas
pemerintahan, melainkan juga memastikan keseimbangan politik tetap terjaga agar
demokrasi berjalan secara sehat.
Distribusi
kekuatan yang terlalu timpang dapat memengaruhi kualitas perdebatan publik,
proses legislasi, dan pengawasan terhadap kebijakan. Oleh karena itu, dinamika
ini perlu terus dicermati, bukan semata sebagai angka elektoral, tetapi sebagai
indikator arah demokrasi Indonesia ke depan.

![[ARTIKEL] Dominasi Koalisi dan Menguatnya Gerindra: Membaca Ulang Peta Politik 2025](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fartikel-dominasi-koalisi-dan-menguatnya-gerindra-membaca-ulang-peta--cover.jpg&w=3840&q=75)
![[ARTIKEL] Learning from Unlearning: Memb](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fimages-45.jpg&w=3840&q=75)

![[OPINI] Apa Itu Moderasi Konten dan Kena](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fyoutube-removed-1400x825.jpg&w=3840&q=75)

![[RILIS PERS] Penilaian dan Keyakinan Ora](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fwhatsapp-image-2026-08-05-at-18-23-23.jpeg&w=3840&q=75)
