Meningkatnya Sikap Kritis Orang Muda
Kecenderungan
kritis orang muda ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sepanjang 2025,
keterlibatan orang muda dalam berbagai aksi di sejumlah daerah menunjukkan
meningkatnya kepedulian mereka terhadap isu sosial dan politik. Temuan NKS Q1
2026 memperkuat tren tersebut, dengan kelompok usia 17–24 tahun secara
konsisten menempatkan isu hak asasi manusia (36%) sebagai topik yang sangat
penting.
Selain
itu, penilaian orang muda terhadap kinerja pemerintah juga menunjukkan
kecenderungan yang lebih kritis. Sebanyak 22% orang muda menilai kinerja
pemerintah di sektor pendidikan masih belum memadai, sementara sektor
ketenagakerjaan dan kesetaraan gender masing-masing dinilai masih sangat kurang
oleh 31% orang muda.
Program Manager
Kawula17, Maria Angelica, menilai bahwa temuan ini mencerminkan perubahan
penting dalam dinamika partisipasi publik. “Orang muda hari ini tidak hanya
semakin sadar terhadap isu, tetapi juga mulai berani menilai dan mempertanyakan
kebijakan yang berdampak pada kehidupan mereka. Ini justru merupakan
perkembangan penting bagi penguatan kualitas demokrasi,” ujarnya.
Menanggapi
temuan tersebut, Human Rights Campaigner Amnesty International Indonesia,
Satya Azyumar, menyampaikan bahwa meningkatnya kekritisan orang muda merupakan
konsekuensi logis dari pengalaman mereka dalam menghadapi berbagai tantangan
struktural. “Orang muda mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan,
pekerjaan, hingga kebebasan untuk berekspresi. Mereka sadar betul bahwa haknya
harus dipenuhi dan tidak lagi diam saat ruang sipil dibatasi. Kritik dari orang
muda ini merupakan suplemen yang seharusnya didengar, bukan dibatasi,”
jelasnya.
Harapan Generasi Baru terhadap Kebijakan Publik
Peningkatan
sikap kritis ini juga diiringi dengan dorongan terhadap kebijakan yang lebih
progresif dan inklusif. Dalam NKS Q1 2026, sebanyak 29% orang muda berusia 17-24
tahun mendukung penurunan ambang batas parlemen sebagai upaya memperluas
representasi politik.
Di sisi
lain, terdapat kekhawatiran terhadap potensi pembatasan kebebasan berekspresi,
khususnya dalam wacana RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing.
Isu ini dipandang penting karena berpotensi memengaruhi ruang partisipasi
publik di masa depan.
Dalam konteks hubungan internasional, pandangan orang muda juga menunjukkan
kecenderungan yang tegas. Sebanyak 59% berpendapat bahwa suatu negara tidak
seharusnya mencampuri urusan domestik negara lain tanpa dasar hukum
internasional yang jelas. Hal ini mencerminkan meningkatnya pemahaman terhadap
prinsip kedaulatan dan tata kelola global.
Menanggapi
temuan ini, Maria Angelica menekankan bahwa aspirasi orang muda perlu dipandang
sebagai masukan konstruktif dalam proses penyusunan kebijakan. “Sikap kritis
orang muda merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan. Karena itu, penting
bagi pemerintah untuk membuka ruang dialog yang lebih inklusif agar kebijakan
yang dihasilkan juga lebih responsif terhadap kebutuhan orang muda dan masyarakat
secara luas,” ujar Program Manager Kawula17 itu.
Wakil
Koordinator Umum Pamflet Generasi, Teliana Juwita, menambahkan bahwa
meningkatnya kepedulian orang muda juga perlu diiringi dengan jaminan ruang
sipil yang aman. “Meningkatnya kepedulian dan sikap kritis orang muda merupakan
perkembangan yang penting. Namun, di saat yang sama, muncul kekhawatiran akan
potensi pembatasan kebebasan berekspresi, terutama dalam wacana kebijakan yang
berkaitan dengan disinformasi. Hal ini tentu berisiko mempersempit ruang sipil
dan menghambat partisipasi orang muda yang sedang tumbuh,” ungkapnya
Menutup
temuan ini, Maria Angelica menegaskan bahwa penguatan kapasitas orang muda
menjadi kunci ke depan. “Sikap kritis perlu diiringi dengan ruang belajar dan
partisipasi yang sehat. Dengan demikian, orang muda tidak hanya menjadi
pengamat, tetapi juga bagian dari solusi dalam proses demokrasi,” tutupnya.
Survei Nasional Kawula17 (NKS) merupakan survei per
kuartal untuk melihat kinerja pemerintah dari perspektif masyarakat. Survei dilakukan dengan metode Computer-Assisted
Self-Interviewing (CASI) atau survei daring. Periode
pengumpulan data survei dilakukan pada tanggal 13-16 Maret 2026 dengan sampel
representatif sebesar 387 responden dari seluruh Indonesia dan diikuti oleh
responden berusia 17-44 tahun dengan margin of error 5%.
Baca laporan lengkap dan survei-survei lainnya di website kami.
Narahubung:
Maria Angelica
angelica@kawula17.id
Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas

![[RILIS PERS] Gen Z Makin Kritis, Isu Pendidikan, HAM, hingga Kebebasan Berekspresi Jadi Sorotan](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fartikel-rilis-pers-gen-z-makin-kritis-isu-pendidikan-ham-hingga-keb-cover.jpg&w=3840&q=75)
![[ARTIKEL] Learning from Unlearning: Memb](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fimages-45.jpg&w=3840&q=75)

![[OPINI] Apa Itu Moderasi Konten dan Kena](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fyoutube-removed-1400x825.jpg&w=3840&q=75)

![[RILIS PERS] Penilaian dan Keyakinan Ora](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fvwynfrwyvpfhhbnqvcjd.supabase.co%2Fstorage%2Fv1%2Fobject%2Fpublic%2Fkawula17-assets%2Fimg%2Fwhatsapp-image-2026-08-05-at-18-23-23.jpeg&w=3840&q=75)
