Sudah Sejauh Mana Kita Mengenal Sejarah? 

Lebih dari 60 tahun berlalu sejak peristiwa Gerakan 30 September (G30S) dan Tragedi 1965–1966, tetapi pembahasan mengenai sejarah tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan. Selama Orde Baru, pemahaman masyarakat tentang G30S banyak dibentuk oleh narasi resmi pemerintah yang menempatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang satu-satunya. Narasi ini disebarluaskan melalui buku sejarah hingga film Pengkhianatan G30S/PKI (1984) karya Arifin C. Noer, yang menjadi tontonan wajib setiap 30 September pada masa itu. 

Setelah Reformasi, akses terhadap berbagai penelitian, kesaksian penyintas/korban, dan karya sejarah semakin terbuka. Publik pun memiliki kesempatan untuk memahami G30S dan kekerasan massal yang terjadi setelahnya melalui sumber yang lebih beragam. Lantas, bagaimana orang muda hari ini memahami sejarah tersebut? 

 

Orang Muda Masih Ingin Belajar Sejarah 

National Benchmark Survey (NBS) Kawula17 2025 menunjukkan bahwa pelanggaran HAM masa lalu menjadi isu kebebasan sipil dan hak politik yang paling banyak diketahui orang muda (48%). Temuan ini sejalan dengan survei Tirto bersama Jakpat (2025) mengenai persepsi orang muda terhadap G30S. Sebanyak 50% responden mengaitkan peristiwa tersebut dengan awal pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituduh terlibat atau memiliki hubungan dengan PKI. 

Selain itu, 62% orang muda menilai bahwa sejarah G30S masih diperdebatkan karena adanya sumber dengan versi yang berbeda. Menariknya, 75% orang muda menyatakan ingin mempelajari sejarah G30S secara lebih utuh. Temuan ini memperlihatkan adanya ketertarikan untuk memahami sejarah lebih jauh, termasuk bagian-bagian yang mungkin belum banyak dibahas melalui sumber pembelajaran sebelumnya. 

 

Learning from Unlearning: Berani Mempertanyakan Apa yang Kita Ketahui 

Mempelajari sejarah tidak selalu berarti menambah informasi baru. Terkadang, kita juga perlu meninjau kembali pemahaman yang sudah lama diterima. Proses inilah yang dikenal sebagai unlearning. Bukan berarti seluruh pengetahuan sebelumnya harus ditinggalkan, melainkan membuka diri terhadap bukti, pengalaman, dan sudut pandang lain agar kita tidak terpaku pada satu narasi. 

Untuk mulai membaca ulang sejarah G30S dan Tragedi 1965–1966, ada beberapa film dan buku yang dapat menjadi referensi. Melalui film dan dokumenter: 

  • Jagal (The Act of Killing) (2012) karya Joshua Oppenheimer, yang menghadirkan rekonstruksi pembunuhan massal 1965 melalui sudut pandang para pelakunya. 

  • Senyap (The Look of Silence) (2014), yang mengikuti perjalanan keluarga korban dalam menghadapi ingatan dan pelaku kekerasan masa lalu. 

  • Eksil (2022) karya Lola Amaria, yang merekam pengalaman orang-orang Indonesia yang tidak dapat kembali ke tanah air akibat perubahan politik pasca-1965. 

  • Plantungan (2010) karya Oka Sukanta, yang mengangkat pengalaman perempuan tahanan politik di kamp Plantungan, Jawa Tengah. 

Melalui buku dan karya sastra: 

  • Dalih Pembunuhan Massal (2008) — John Roosa. Mengulas peristiwa G30S, konteks politik di baliknya, serta kaitannya dengan kekerasan massal setelah 1965. 

  • Tahun yang Tak Pernah Berakhir (2004) — John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid. Menghadirkan pengalaman korban dan keluarga yang terdampak Tragedi 1965. 

  • The Jakarta Method (2020) — Vincent Bevins. Membahas kekerasan antikomunis di Indonesia dalam konteks Perang Dingin dan pengaruhnya secara global. 

  • Pulang (2012) — Leila S. Chudori. Novel yang membawa pembaca mengikuti kehidupan eksil politik Indonesia dan keluarga mereka yang terpisah dari tanah air. 

 

Berbagai referensi tersebut tidak harus dibaca atau ditonton sekaligus. Kita bisa memulainya dari satu sumber, lalu membandingkannya dengan penelitian dan kesaksian lain untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap. Pada akhirnya, learning from unlearning bukan tentang memilih narasi sejarah yang paling sesuai dengan pandangan kita. Sebaliknya, proses ini mengajak kita untuk terus bertanya, memeriksa sumber, dan memahami pengalaman orang-orang yang terdampak. 

Yuk, terus latih cara berpikir kritis dengan membaca berbagai artikel dan temuan riset di Kawula17. Mulai dari mengenali isu, memahami data, hingga membentuk pandangan sendiri berdasarkan informasi yang lebih utuh. Sebab, belajar dari masa lalu juga berarti lebih kritis dalam membaca apa yang terjadi hari ini. 

Referensi 

DW (Deutsche Welle). Genosida Tidak Dimulai dengan Senjata. Diakses dari dw.com 

Gramedia (2024). Menyelami Sejarah Kelam G30S/PKI lewat 5 Novel Best Seller Ini. Diakses dari gramedia.com 

Hidayat, Lukman (2026). G30S dan Ingatan Publik: Perjalanan Narasi dari Orde Baru hingga Reformasi. Pikiran Rakyat. Diakses dari pikiran-rakyat.com 

Historia.id (2017). Lima Versi Pelaku Peristiwa G30S. Diakses dari historia.id 

Iqbal, A. R. (2026). 10 Rekomendasi Buku untuk Memahami Tragedi 1965 atau G30S. Mojok.co. Diakses dari mojok.co 

Nur, Mochammad Fajar (2025). Survei: Anak Muda Tak Telan Mentah G30S Versi Orde Baru. Tirto.id. Diakses dari tirto.id 

Pamflet Generasi (2017). 6 Film Alternatif Tentang Peristiwa 1965. Diakses dari pamflet.or.id 

Kawula17 (2025). Laporan National Benchmark Survey H1 2025. Diakses dari kawula17.id