Tren Perbaikan Belum Konsisten

Sepanjang

2025, rata-rata skor keyakinan masyarakat berada di kisaran 20%. Pada kuartal

ke-4 2025, skor tersebut meningkat menjadi 25%, naik secara signifikan

dibandingkan dengan kuartal ke-3 2025 yang berada di angka 16%. Meski

menunjukkan tren perbaikan, capaian ini masih lebih rendah dibandingkan dengan

awal tahun (Kuartal ke-1 2025) yang mencapai 29%.

Keraguan

publik terutama berkaitan dengan isu-isu yang berdampak langsung pada kehidupan

sehari-hari, seperti pengentasan kemiskinan (-24%) dan kondisi ekonomi (-2%).

Selain itu, penanganan bencana, khususnya banjir dan longsor di sejumlah

wilayah Sumatera, juga dinilai belum optimal (-6%).

Manajer

Program Kawula17, Maria Angelica, menilai bahwa peningkatan skor keyakinan ini

perlu dibaca secara proporsional. “Tren positif ini penting, namun kepercayaan

publik akan lebih berkelanjutan jika diikuti oleh perbaikan nyata. Masyarakat

menilai pemerintah bukan dari narasi, melainkan dari dampak kebijakan yang

mereka rasakan langsung,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tanggapan pemerintah

terhadap bencana menjadi indikator krusial di tengah meningkatnya risiko krisis

iklim.

Sejalan

dengan itu, Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia

Primaresti, menilai bahwa kepercayaan publik yang bertumpu pada persepsi figur

kepemimpinan perlu diimbangi dengan capaian kebijakan yang terukur. Menurutnya,

penguatan kepercayaan jangka panjang memerlukan fokus pada program perlindungan

sosial yang konkret, seperti stabilitas harga pangan dan subsidi yang tepat

sasaran, khususnya untuk menjawab persoalan kemiskinan yang masih menjadi

perhatian publik.

Jarak antara Persepsi Publik dan Pelaksanaan Program

Survei

juga mencatat peningkatan kepuasan masyarakat terhadap program-program

pemerintah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Program dengan tingkat

kepuasan relatif tinggi umumnya merupakan program yang mudah dikenali dan

dirasakan secara langsung, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Garuda,

dan pemeriksaan kesehatan gratis. Pola ini sejalan dengan alasan keyakinan

publik yang banyak dipengaruhi oleh persepsi kepemimpinan dan dukungan simbolik

di ruang publik.

Namun

demikian, temuan NKS mengindikasikan perlunya memperkuat keselarasan antara

persepsi publik dan kualitas pelaksanaan di lapangan. Sejumlah program yang dinilai positif, secara citra masih

menghadapi tantangan implementasi, termasuk pada aspek keamanan, standar

pelaksanaan, dan tata kelola. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kepuasan

publik perlu diikuti dengan penguatan kualitas kebijakan agar manfaatnya dapat

dirasakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Menanggapi

temuan ini, Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia

Primaresti, menekankan pentingnya penguatan kinerja substantif. Menurutnya,

ketergantungan pada persepsi figur kepemimpinan perlu diimbangi dengan capaian

kebijakan yang terukur, terutama di sektor ekonomi,

integritas pemerintahan, dan perlindungan sosial.

Menutup

temuan ini, Maria Angelica menegaskan bahwa kualitas pelaksanaan kebijakan

menjadi faktor penentu ke depan. “Program yang mudah dikenali memang

berkontribusi pada apresiasi publik, tetapi kepercayaan jangka panjang hanya

akan terbentuk jika kebijakan dijalankan secara aman, konsisten, dan

transparan,” ujarnya.

National Kawula17 Survey (NKS)

merupakan survei per kuartal untuk melihat kinerja pemerintah dari perspektif

masyarakat. Survei

dilakukan dengan metode Computer-Assisted Self-Interviewing (CASI) atau survei

daring. Periode pengumpulan data survei dilakukan pada tanggal

16-19 Januari 2026 dengan sampel representatif sebesar 400 responden dari

seluruh Indonesia dan diikuti oleh responden berusia 17-44 tahun dengan margin of error 5%.

Baca laporan lengkap dan

survei-survei lainnya di website kami.

Narahubung:

Maria Angelica

angelica@kawula17.id

Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas